Toko Buku Apuy Bandung

August 4, 2009

Judul : Shalawat dan Salam untuk Manusia Teragung

Filed under: Agama Islam, Shirah - apuy @ 7:33 pm
Share on Facebook

Karya :Mahmoud Hamdi Zaqzouq, dkk.

Harga :Rp.30.000,-

Penerbit : Lentera Hati

 

Sebagai sosok manusia sempurna, Muhammad saw. terlihat “aneh” di mata orang-orang yang “tidak mengenalnya” dan tidak menyukainya. Mereka menempuh aneka usaha dan cara untuk membuktikan bahwa Muhammad saw. tidaklah sesempurna yang dikabarkan dan diyakini umat Islam; bahwa dia hanyalah manusia biasa yang tidak luput dari salah dan dosa. Bertolak dari sini cukup beralasan jika sosok Muhammad saw. tak sepi dari gunjingan dan tudingan miring, utamanya yang datang dari mereka yang membencinya.

Buku ini berisi klarifikasi untuk meluruskan kesalahpahaman seputar sosok dan kenabian Muhammad saw., seperti;

  • Berita kedatangan Muhammad dalam Kitab-kitab terdahulu
  • Poligami dan kemaksuman Muhammad saw.
  • Issu Muhammad saw. berusaha bunuh diri, memuja Hajar Aswad, dan mendapatwahyu dari setan, dan sebagainya.  
Ditulis oleh ulama terkemuka yang kompeten di bidangnya, seperti Prof. Mahmoud Hamdi Zaqzouq, Prof. Abdush Shabur Marzuq, dan Prof. Muhammad Imarah, seluruh penjelasan dalam buku ini disusun berdasarkan keterangan al-Qur’an, kesaksian yang terekam dalam hadits, juga argumentasi rasional yang didukung bukti-bukti historis. Buku ini dapat dijadikan bacaan wajib untuk mereka yang ingin lebih mengenal manusia pilihan Tuhan, Muhammad saw. 

Judul : Cinta Bagai Anggur

Harga : Rp.48.000,-
Karya : Syaikh Muzafer Ozzak
Penerbit : Pustaka Prabajati
 

PADA tahun 1980, Dr. Robert Frager, Ph.D untuk pertama kalinya bertemu dengan Syaikh Muzaffer Ozak, pimpinan Tarekat Halveti-Jerrahi dari Turki. Ia, sebagai pendiri dan direktur Institute of Transpersonal Psychology di California Utara, ketika itu mengundang beliau sebagai pembicara di universitasnya.

Frager dan seluruh mahasiswanya, serta seluruh hadirin, dibuat takjub dan terpaku dengan narasi Sang Syaikh yang terasa begitu intens dan dalam. Bukan pembahasan akademis-teoretik tentang Islam dan tashawwuf yang membuat mereka diam terpaku, melainkan tuangan kisah hikmah yang digunakan Syaikh untuk menjelaskan hakikat-hakikat agama dan kehidupan kepada audiens.

Kata Frager, hidupnya pasti akan berubah seandainya saja ia dapat mengingat semua kisah itu. Sebagai jawaban, Syaikh menatapnya begitu dalam dan berkata padanya dengan penuh kesungguhan: “Anda tidak akan pernah bisa melupakannya.”

Buku ini merupakan kumpulan kisah-kisah Syaikh Muzaffer yang begitu memesona para pendengarnya, selama kunjungan rutinnya ke Amerika. Fragerlah—ia memang tidak bisa lupa dengan kisah-kisah itu—yang kemudian mengompilasinya setelah ia sendiri akhirnya memeluk Islam.

Buku ini bukan hanya ditujukan hanya bagi kaum muslim maupun para peminat tashawwuf. Meski kisahnya mengandung elemen-elemen sufisme, namun hikmah yang dikandungnya sungguh-sungguh indah dan dalam, sehingga menyentuh jati diri kemanusiaan kita.

 

Judul : Allah, Nabi Adam dan Siti Hawa

Karya : Syaikh Muzaffer Ozak al Jerahi

Harga : Rp.39.000,-

Penerbit : Pustaka Hidayah

 Yang harus diingat, pesona Allah, Nabi Adam dan Siti Hawa adalah
untaian kisah abadi yang akan dikenang jutaan tahun lagi.
Bukan hanya kisah tersebut. Tetapi, banyak
kisah-kisah lain yang membuat Kita gandrung membacanya.

Buku ini bukan semata-mata mengungkap komunikasi Allah,
Nabi Adam dan siti Hawa tetapi menyajikan kisah inovatif 
yang terbaik di masa lalu, masa kini dan juga nanti antara lain:
Bagaimana cara kita meyakini bahwa Allah adalah Esa;
Buah terlarang; Matarantai Cahaya Kenabian; Cara Malaikat Bermunajat;
Dunia Nyata dan Alam Gaib; Rasa Syukur; Si Lumpuh yang Naik di Punggung si Buta
Salah Seorang dari Penyembah-Api Memeluk Islam.

Inilah buku yang baik untuk dibaca sepanjang musim. Penulisnya benar-benar matang,
menguasai dan menggarapnya dengan serius,
sungguh sebuah buku yang merengkuh jiwa pembaca.[]

Judul : Swordless Samurai

Filed under: Sejarah Umum, Biografi, Rekomendasi - apuy @ 11:03 am
Share on Facebook

Penulis : Kitami Masao
Penerbit : Redline Publishing, Jakarta
Harga : Rp.49.800,-

LAHIR sebagai anak petani miskin, bertampang jelek, pendek, tanpa status dan tak mendapat pendidikan memadai, mungkin bagi sebagian besar orang seperti ditimpa "kutukan". Pasalnya, nyaris tak ada kelebihan yang dapat dibanggakan untuk menatap masa depan. Tapi kutukan seperti itu tidak membuat Hideyoshi meratap sedih. Meski ia lahir di Jepang abad ke-16 pada zaman perang antar-klan (masa kekacauan) yang menuntut orang lihai bermain pedang, sehingga tak membuka peluang Hideyoshi memiliki tempat bertahan hidup, apalagi berkarier bisa jadi pemimpin besar, tetapi Hideyoshi bisa membalik semua kesialan itu menjadi keberuntungan.

Hideyoshi bisa menjahit takdir kemiskinan menjadi kemujuran. Ia tak menjadikan kekurangan itu menentukan jalan hidupnya. Ia terus memupuk semangat untuk jadi pemimpin dengan mengandalkan otak daripada tubuh, akal daripada senjata, strategi dan logistik daripada tombak. Tidak mustahil jika seiring perjalanan waktu, ia mampu menapaki hidup dari petualang menjadi pemegang kedaulatan tertinggi Jepang sebagai wakil kaisar. Lalu, apa rahasia yang dipraktekan anak petani miskin yang dijuluki "monyet" itu sehingga bisa sukses?

Dalam buku The Swordless Samurai; Kebijakan Kepemimpinan Legenda Jepang Abad Keenam Belas Toyotomi Hideyoshi, Kitami Masao –dengan cara bertutur mewakili tokoh Hideyoshi– mengungkapkan, "Keberhasilanku dalam meraih kepemimpinan dibangun atas dasar-dasar yang terdengar lumrah seperti pengabdian, penghargaan, kerja keras dan tindakan tegas" (hal. 5). Memang, dasar-dasar itu begitu sederhana. Tapi Hideyoshi menjalankan prinsip hidup itu melampaui kewajaran. Ia bekerja tiga kali lebih keras, mengabdi tiga kali lebih setia, memberi penghargaan tiga kali lebih tinggi, dan juga bertindak keras pada diri sendiri lebih dari orang lain. Maka, ia berhasil menjadi pemimpin.

Lahir sebagai anak petani miskin di Nakamura propinsi Owari, sebenarnya Hideyoshi sungguh dilahirkan dalam keadaan tidak beruntung. Ayahnya meninggal ketika ia berumur tujuh tahun, lantas ibunya menikah lagi (dengan seorang petani). Sewaktu kecil, ia tergolong nakal dan benci sekolah. Maka para biksu angkat tangan dan mengembalikan Hideyoshi pulang ke rumah. Saat ibunya memintanya untuk meninggalkan rumah guna mencari kerjaan, Hideyoshi selalu dipecat dan pulang lagi ke rumah. Padahal, di rumah ia selalu bertengkar dengan ayah tirinya.

Ketika ia berusia usia lima belas tahun, ia meninggalkan rumah dan berjanji kepada ibunya bawah ia tak akan pulang sebelum berhasil meraih apa yang dia impikan. Dia berpetualang, tidur di jalanan, dan kerap kelaparan; jadi pedagang jarum keliling, menjalani pekerjaan rendahan. Setelah lelah menggelandang, Hideyoshi sempat ikut klan Matshushita sebelum mengabdi Lord Nobunaga. Awal mengabdi pada Nobunaga, ia jadi pelayan pembawa sandal tapi hal itu tak mengurangi pengabdiannya. Apalagi -di mata Hideyoshi- Nobunaga adalah pemimpin yang luar biasa dan memiliki visi ke depan.

Kerja keras, pengabdian dan kesetiaan yang diukir Hideyoshi lambat laun membuahkan hasil. Ia menapaki jabatan; dari pembawa sandal jadi pengelola kayu bakar. Setelah dia berhasil mengubah kemustahilan menjadi kenyataan saat ia memenuhi tantangan membangun benteng Kiyoshi, dia pun naik jabatan jadi prajurit. Lalu, ketika dia kembali berhasil membangun benteng Sunomata, dan berhasil menyusun strategi perang yang bisa mengalahkan beberapa lawan, ia diangkat jadi jendral.

Karier Hideyoshi melesat cepat dan ia memiliki jiwa memimpin. Bahkan dia berhasil menjadi pemimpin saat krisis. Ketika Nobunaga meninggal dibunuh Mitsuhide, dia mengobarkan semangat untuk menuntut balas. Tak cuma di situ, ketika Nabukatsu dan Nobutaka –anak kedua dan ketiga Nobunaga, tapi dari selir– saling berebut kekuasaan, Hideyoshi menengahi perselisihan (meski pun pada sisi lain; untuk menyelamatkan dirinya) dengan mengangkat Samboshi, cucu Nobunaga dari (putra mahkota) Nobutada yang ikut meninggal bersama Nobunaga. Karena Samboshi masih bayi, maka Hideyoshi menjadi wali.

Hidoyoshi kemudian meneruskan perjuangan Nobunaga, menyatukan Jepang dan kemudian menjadi wakil kaisar. Ia meraih jabatan tertinggi dimulai dari bawah tak mengandalkan silsilah, melainkan otak dan kerja keras. Tapi tak ada manusia yang sempurna. Setelah jadi wakil kaisar, dia terlena; sombong, lupa diri. Setelah Jepang damai, ia tidak bisa mengendalikan diri untuk mengekang obsesi menggempur Korea dan China.

Ditulis Kitami Masao dalam bentuk pengakuan (dengan gaya bertutur; "aku" Hideyoshi), buku ini mengungkap cukup adil riwayat hidup Hideyoshi. Tak salah, jika buku ini tak hanya mengisahkan setumpuk prestasi dan keberhasilan Hideyoshi, melainkan juga setumpuk kegagalan setelah ia meraih jabatan. Dilengkapi dengan setumpuk data; berupa lembaran surat, dokumen dan penelitian para ahli sejarah, penulis menjamin; bahwa buku ini mendekati akurat di tengah-tengah mitos yang melingkupi kepemimpinan Hideyoshi.

Lebih dari itu, buku ini menawarkan setumpuk prinsip juga rahasia hidup yang dapat digali dari perjuangan Hideyoshi dalam menapaki karier menjadi wakil kaisar. Maklum, karena buku ini tak hanya sekedar cerita tentang keberhasilan Hideyoshi melainkan juga berisi prinsip, rahasia sukses dan kebijakan politik "sang pemimpin besar" yang dicatat oleh sejarah. Dengan prinsip-prinsip itu tentu pembaca bisa merengkuh pelajaran berharga dari kebijakan-kebijakan politik Hideyoshi.

Judul : Ramadhan Yang Kurindukan

Filed under: Agama Islam, Buku Karya Tokoh Sufi - apuy @ 10:43 am
Share on Facebook

Karya : Syeikh Muzaffer Ozzak al Jerahi
Harga : Rp.39.000,-
Penerbit : Pustaka Hidayah

Ramadhan sesungguhnya tidaklah berjarak dengan waktu. Tugas kita adalah mengundang kualitas-kualitas yang terdapat di bulan mulia tersebut lebih mendekat dari biasanya. Rindukanlah Ramadhan
dan peliharalah semangat tersebut agar bisa sama dengan apa yang kita
visualisakan dalam pikiran, sikap dan tindakan kita. Sadarilah bahwa setiap Ramadhan datang, selalu adan nuansa kebeningan dan kedamaian yang berbeda, baik itu di masa lalu maupun di masa depan.

Di dalam buku ini juga termuat kisah tentang umat Nabi Nuh a.s. "…Suata kali atas perintah Tuhan, Nabi Nuh a.s. membangun sebuah perahu. Tetapi, kaum kafir menghinanya dan mulai mengotori perahu Nabi Nuh a.s. dengan kotoran manusia. Sampai-sampai perahu Nuh penuh kotoran hasil erbuatan kaum kafir. Tuhan mengazab mereka dengan penyakit gatal-gatal di sekujur tubuh. Suatu kali, ada seorang kafir yang sedang buang hajat. Ia terpeleset, dan tubuhnya penuh kotoran manusia. Aneh binti ajaib, penyakit kudisnya sembuh. Mulailah orang kafir tadi berkisah kepada teman-temannya. Akhirnya seluruh orang-orang kafir berguling-guling
di perahu Nabi Nuh a.s. Kemudian perahu tersebut menjadi bersih dan mengkilat."

Perjalanan kapal Nuh mengingatkan bahwa kita sedang menuju ke arah akhirat.
Berpuasalah sebelum Ramadhan tiba, "berhari rayalah" sebelum lebaran datang supaya panggilan-panggilan kebaikan dapat menghebatkan dan menjadikan diri kita menjadi pribadi yang rindu dan tulus, setulus dan serindu-rindunya menanti Ramadhan hadir tepat di lorong mata hati kita.[]

July 29, 2009

Judul : Guru Sejati dan Muridnya

guru_sejati_cover_blog1

 Karya : R. M. Bawa Muhayyadden

Harga : Rp 39.000,-

Penerbit : Pustaka Prabajati

“…Buku ini langka karena di masa ini cukup sulit bagi kita untuk mendapatkan literatur konkrit tentang cara seorang Mursyid sejati dalam memberikan bimbingan kepada para muridnya, dengan muatan yang mampu menggambarkan interaksi mereka dengan baik. Umumnya literatur yang tersedia dalam mengulas hal tersebut, biasanya ada dalam konteks masa Islam klasik, dengan gaya bahasa maupun istilah yang tidak mudah dipahami oleh pembaca umum. Kadang bimbingannya ditulis dalam bentuk hikayat. Selain itu, karena perbedaan masa yang terpaut jauh dengan masa kita sekarang, biasanya buku-buku tersebut memerlukan interpretasi yang lebih dalam lagi untuk bisa diturunkan dalam level kehidupan kita sehari-hari di masa kini.

Ketiadaan hal-hal tersebut justru menjadikan buku ini unik karena tidak ada pembicaraan mengenai teori dan dalil. Buku ini juga tidak membicarakan siksa yang harus Anda terima kelak bila tidak melakukan ini dan itu, juga tidak membicarakan kisah para sufi di masa lalu yang tampak tidak lazim, yang sulit kita hubungkan dengan kehidupan di masa kita sekarang.

Buku ini merupakan rekaman interaksi dan bimbingan seorang Mursyid sejati yang memberikan pengajaran kepada murid-muridnya di abad ke-20, tidak jauh dari masa kita sekarang. Murid-muridnya pun terdiri dari kalangan bangsa Amerika dan Eropa, yang sedikit banyak mempunyai pola pikir dan pola budaya yang masih memiliki sekian kadar kesamaan dengan kita, sehingga mudah untuk ditempatkan dalam konteks kehidupan kita sekarang. Bahasa yang disampaikan adalah bahasa nasihat, sebuah rekaman dialog seorang guru kepada murid-muridnya di dalam sebuah forum kecil.

Bakat yang paling istimewa dari seorang Bawa Muhaiyaddeen adalah kemampuannya untuk memudahkan murid-muridnya dalam memahami esensi. Konsep-konsep spiritual yang beliau sampaikan, sebenarnya adalah konsep yang rumit dan sangat dalam jika disampaikan dalam istilah maupun bahasa sufisme klasik. Akan tetapi, beliau mampu menyempaikannya dengan bahasa yang lugas dan amat sederhana, disertai contoh dan kisah yang teramat mudah dipahami. Sedemikian sederhana dan mudahnya, hingga semua bahasan mendalam dan teoretik dari para sufi klasik itu menjelma menjadi seakan-akan hanyalah sebuah nasihat biasa. Padahal, esensi yang beliau sampaikan dibandingkan dengan esensi yang diajarkan para sufi klasik melalui pembahasan yang tampak rumit, sebenarnya adalah sama.

Bawa Muhaiyaddeen tidak mendidik muridnya untuk menjadi Islamolog maupun pengkaji tasawuf yang hafal pelbagai istilah rumit, dan menjadikan para muridnya menang dalam setiap perdebatan ilmiah. Yang Bawa lakukan adalah mendidik para muridnya untuk hidup dan ‘bernafas’ dalam teori-teori tersebut sehingga esensinya mampu ditangkap oleh murid-muridnya. Kami kira, analogi yang baik untuk Beliau adalah, ia tidak mengajarkan teori tentang laut kepada ikan-ikan. Ia mengajarkan ikan-ikan untuk hidup dengan benar di dalam laut, dengan tetap membawa jati dirinya masing-masing.

Hal yang luar biasa, adalah fakta bahwa beliau seorang muslim buta huruf sederhana, yang melewatkan sebagian besar hidupnya di dalam hutan-hutan di Sri Lanka. Akan tetapi kedalaman ilmunya membuatnya kemudian dikenal masyarakat di Amerika sehingga Beliau dibawa ke negeri mereka untuk menjadi pembimbingnya di sana. Sangat menarik melihat murid-muridnya—yang sebagian besar merupakan masyarakat kulit putih dengan tingkat pendidikan yang tinggi—menerima pengajaran dari seorang yang biasa hidup bersahaja di pedalaman hutan Sri Lanka. …”

July 25, 2009

Menangkis Bisikan Jahat – Peringatan dari Sang Syaikh Agung –

Karya: Syaikh Abdul Qadir al-Jailani

Harga: Rp 79.000,-

Penerbit: Pustaka Hidayah

 

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, dalam buku ini, mengemukakan bisikan-bisikan (khawâthir) yang mungkin muncul di dalam hati manusia, di antaranya: Bisikan dari diri rendah (nafs), bisikan hawa nafsu (hawâ), bisikan setan, bisikan malaikat, dan bisikan Tuhan. Jika kita menolak bisiskan dari diri rendah, bisikan dari hawa nafsu, dan bisikan setan, maka bisikan dari malaikat akan datang kepada kita. Dan akhirnya akan dating bisikan dari Tuhan Kebenaran. Inilah tahap yang terakhir.

“Apabila hatimu sehat dan baik, ia akan selalu bersikap kritis untuk menanyai setiap bisikan yang datang: Bisikan macam apa engkau ini? Dari sumber mana engkau datang? Mana bisikan itu akan mengatakan: `Aku adalah bisikan anu dan anu …`”

Di dalam nasihatnya, beliau juga mengingatkan: “Wahai anakku terkasih! Aku nasihatkan kepadamu agar bertakwa kepada Allah dan senantiasa takut untuk menyakiti hati-Nya. Aku juga menasihatkan kepada mu agar setiap saat engkau siap memenuhi kewajibanmu kepada kedua orangtuamu dan kepada orang-orang tua (masyâ’ikh), sebab Allah memandang dengan penuh keridhaan kepada hamba-Nya manakala memenuhi kewajiban itu. Engkau harus menjadi pengawal setia Kebenaran, baik ketika engkau sendirian maupun sedang berada bersama orang banyak.”