Judul : Biarkan Hatimu Bicara
“Istafti qalbak, mintalah fatwa pada hatimu;
Karya : Prof. TK. H. Ismail Yakub MA - SH.
Harga : Rp.675.000,-
Penerbit : Pustaka Nasional
Terjemahan buku ini asalnya terkumpul dalam 8 jilid tebal, yang kini kami susun kembali menurut susunan jilid-jilid arabnya yang bernama sama sengan judul buku ini, yaitu “Ihya’ Ulumiddin”. Buku ini adalah karya terbesar dari Imam Al-Ghazali, yang sangat penting bagi para pembaca kaum Muslimin. Ia terbagi dalam 4 bagian: Ibadat, Mu’amalat, Munakahat, dan Jinayat, dan masing-masing topiknya diuraikan secara akademik dan logika, dengan contoh-contoh, permisalan-permislan yang sungguh menarik, diikuti denagn interpretasi ilmiah dan falsafah. Approach yang digunakan oleh Imam Al-Ghazali ini sungguh berkesan sekali, dan akan mengharukan bagi setiap pembacanya.
PADA tahun 1980, Dr. Robert Frager, Ph.D untuk pertama kalinya bertemu dengan Syaikh Muzaffer Ozak, pimpinan Tarekat Halveti-Jerrahi dari Turki. Ia, sebagai pendiri dan direktur Institute of Transpersonal Psychology di California Utara, ketika itu mengundang beliau sebagai pembicara di universitasnya.
Frager dan seluruh mahasiswanya, serta seluruh hadirin, dibuat takjub dan terpaku dengan narasi Sang Syaikh yang terasa begitu intens dan dalam. Bukan pembahasan akademis-teoretik tentang Islam dan tashawwuf yang membuat mereka diam terpaku, melainkan tuangan kisah hikmah yang digunakan Syaikh untuk menjelaskan hakikat-hakikat agama dan kehidupan kepada audiens.
Kata Frager, hidupnya pasti akan berubah seandainya saja ia dapat mengingat semua kisah itu. Sebagai jawaban, Syaikh menatapnya begitu dalam dan berkata padanya dengan penuh kesungguhan: “Anda tidak akan pernah bisa melupakannya.”
Buku ini merupakan kumpulan kisah-kisah Syaikh Muzaffer yang begitu memesona para pendengarnya, selama kunjungan rutinnya ke Amerika. Fragerlah—ia memang tidak bisa lupa dengan kisah-kisah itu—yang kemudian mengompilasinya setelah ia sendiri akhirnya memeluk Islam.
Buku ini bukan hanya ditujukan hanya bagi kaum muslim maupun para peminat tashawwuf. Meski kisahnya mengandung elemen-elemen sufisme, namun hikmah yang dikandungnya sungguh-sungguh indah dan dalam, sehingga menyentuh jati diri kemanusiaan kita.
Karya : Syaikh Muzaffer Ozak al Jerahi
Harga : Rp.39.000,-
Penerbit : Pustaka Hidayah
Yang harus diingat, pesona Allah, Nabi Adam dan Siti Hawa adalah
untaian kisah abadi yang akan dikenang jutaan tahun lagi.
Bukan hanya kisah tersebut. Tetapi, banyak
kisah-kisah lain yang membuat Kita gandrung membacanya.
Buku ini bukan semata-mata mengungkap komunikasi Allah,
Nabi Adam dan siti Hawa tetapi menyajikan kisah inovatif
yang terbaik di masa lalu, masa kini dan juga nanti antara lain:
Bagaimana cara kita meyakini bahwa Allah adalah Esa;
Buah terlarang; Matarantai Cahaya Kenabian; Cara Malaikat Bermunajat;
Dunia Nyata dan Alam Gaib; Rasa Syukur; Si Lumpuh yang Naik di Punggung si Buta
Salah Seorang dari Penyembah-Api Memeluk Islam.
Inilah buku yang baik untuk dibaca sepanjang musim. Penulisnya benar-benar matang,
menguasai dan menggarapnya dengan serius,
sungguh sebuah buku yang merengkuh jiwa pembaca.[]
Karya : Syeikh Muzaffer Ozzak al Jerahi
Harga : Rp.39.000,-
Penerbit : Pustaka Hidayah
Ramadhan sesungguhnya tidaklah berjarak dengan waktu. Tugas kita adalah mengundang kualitas-kualitas yang terdapat di bulan mulia tersebut lebih mendekat dari biasanya. Rindukanlah Ramadhan
dan peliharalah semangat tersebut agar bisa sama dengan apa yang kita
visualisakan dalam pikiran, sikap dan tindakan kita. Sadarilah bahwa setiap Ramadhan datang, selalu adan nuansa kebeningan dan kedamaian yang berbeda, baik itu di masa lalu maupun di masa depan.
Di dalam buku ini juga termuat kisah tentang umat Nabi Nuh a.s. "…Suata kali atas perintah Tuhan, Nabi Nuh a.s. membangun sebuah perahu. Tetapi, kaum kafir menghinanya dan mulai mengotori perahu Nabi Nuh a.s. dengan kotoran manusia. Sampai-sampai perahu Nuh penuh kotoran hasil erbuatan kaum kafir. Tuhan mengazab mereka dengan penyakit gatal-gatal di sekujur tubuh. Suatu kali, ada seorang kafir yang sedang buang hajat. Ia terpeleset, dan tubuhnya penuh kotoran manusia. Aneh binti ajaib, penyakit kudisnya sembuh. Mulailah orang kafir tadi berkisah kepada teman-temannya. Akhirnya seluruh orang-orang kafir berguling-guling
di perahu Nabi Nuh a.s. Kemudian perahu tersebut menjadi bersih dan mengkilat."
Perjalanan kapal Nuh mengingatkan bahwa kita sedang menuju ke arah akhirat.
Berpuasalah sebelum Ramadhan tiba, "berhari rayalah" sebelum lebaran datang supaya panggilan-panggilan kebaikan dapat menghebatkan dan menjadikan diri kita menjadi pribadi yang rindu dan tulus, setulus dan serindu-rindunya menanti Ramadhan hadir tepat di lorong mata hati kita.[]
Karya : R. M. Bawa Muhayyadden
Harga : Rp 39.000,-
Penerbit : Pustaka Prabajati
“…Buku ini langka karena di masa ini cukup sulit bagi kita untuk mendapatkan literatur konkrit tentang cara seorang Mursyid sejati dalam memberikan bimbingan kepada para muridnya, dengan muatan yang mampu menggambarkan interaksi mereka dengan baik. Umumnya literatur yang tersedia dalam mengulas hal tersebut, biasanya ada dalam konteks masa Islam klasik, dengan gaya bahasa maupun istilah yang tidak mudah dipahami oleh pembaca umum. Kadang bimbingannya ditulis dalam bentuk hikayat. Selain itu, karena perbedaan masa yang terpaut jauh dengan masa kita sekarang, biasanya buku-buku tersebut memerlukan interpretasi yang lebih dalam lagi untuk bisa diturunkan dalam level kehidupan kita sehari-hari di masa kini.
Ketiadaan hal-hal tersebut justru menjadikan buku ini unik karena tidak ada pembicaraan mengenai teori dan dalil. Buku ini juga tidak membicarakan siksa yang harus Anda terima kelak bila tidak melakukan ini dan itu, juga tidak membicarakan kisah para sufi di masa lalu yang tampak tidak lazim, yang sulit kita hubungkan dengan kehidupan di masa kita sekarang.
Buku ini merupakan rekaman interaksi dan bimbingan seorang Mursyid sejati yang memberikan pengajaran kepada murid-muridnya di abad ke-20, tidak jauh dari masa kita sekarang. Murid-muridnya pun terdiri dari kalangan bangsa Amerika dan Eropa, yang sedikit banyak mempunyai pola pikir dan pola budaya yang masih memiliki sekian kadar kesamaan dengan kita, sehingga mudah untuk ditempatkan dalam konteks kehidupan kita sekarang. Bahasa yang disampaikan adalah bahasa nasihat, sebuah rekaman dialog seorang guru kepada murid-muridnya di dalam sebuah forum kecil.
Bakat yang paling istimewa dari seorang Bawa Muhaiyaddeen adalah kemampuannya untuk memudahkan murid-muridnya dalam memahami esensi. Konsep-konsep spiritual yang beliau sampaikan, sebenarnya adalah konsep yang rumit dan sangat dalam jika disampaikan dalam istilah maupun bahasa sufisme klasik. Akan tetapi, beliau mampu menyempaikannya dengan bahasa yang lugas dan amat sederhana, disertai contoh dan kisah yang teramat mudah dipahami. Sedemikian sederhana dan mudahnya, hingga semua bahasan mendalam dan teoretik dari para sufi klasik itu menjelma menjadi seakan-akan hanyalah sebuah nasihat biasa. Padahal, esensi yang beliau sampaikan dibandingkan dengan esensi yang diajarkan para sufi klasik melalui pembahasan yang tampak rumit, sebenarnya adalah sama.
Bawa Muhaiyaddeen tidak mendidik muridnya untuk menjadi Islamolog maupun pengkaji tasawuf yang hafal pelbagai istilah rumit, dan menjadikan para muridnya menang dalam setiap perdebatan ilmiah. Yang Bawa lakukan adalah mendidik para muridnya untuk hidup dan ‘bernafas’ dalam teori-teori tersebut sehingga esensinya mampu ditangkap oleh murid-muridnya. Kami kira, analogi yang baik untuk Beliau adalah, ia tidak mengajarkan teori tentang laut kepada ikan-ikan. Ia mengajarkan ikan-ikan untuk hidup dengan benar di dalam laut, dengan tetap membawa jati dirinya masing-masing.
Hal yang luar biasa, adalah fakta bahwa beliau seorang muslim buta huruf sederhana, yang melewatkan sebagian besar hidupnya di dalam hutan-hutan di Sri Lanka. Akan tetapi kedalaman ilmunya membuatnya kemudian dikenal masyarakat di Amerika sehingga Beliau dibawa ke negeri mereka untuk menjadi pembimbingnya di sana. Sangat menarik melihat murid-muridnya—yang sebagian besar merupakan masyarakat kulit putih dengan tingkat pendidikan yang tinggi—menerima pengajaran dari seorang yang biasa hidup bersahaja di pedalaman hutan Sri Lanka. …”