Judul : Sapaan Ilahi, Pilihan Hadis Qudsi Beserta Penjelasan Para Perawinya
Karya : Lajnah Sunnah Majelis Tinggi Urusan Agama Mesir
Harga : Rp.35.000,-
Penerbit : Iiman
Hadis Qudsi menempati kedudukan paling istimewa setelah Al-Quran. Hamper tak ada bedanya dengan Al-Quran, hadis qudsi adalah ungkapan langsung atau sapaan Allah kepada hamba-Nya melalui lisan Nabi. Dalam hadis qudsi, Tuhan selalu menyatakan diri sebagai “Aku” dan menyapa hamba-Nya sebagai “Engkau”, sehingga hubungan “Aku dan Engkau”—meminjam istilah Martin Buber—terasa begitu akrab dan hangat. Jalinan keintiman ini, pada gilirannya, membuat hadis qudsi lebih bisa menguak berbagai rahasia sisi keilahian-Nya di satu sisi, dan rahasia kehidupan makhluk di sisi lain.
Karena itu, wajarlah kalau kemudian hadis qudsi lebih banyak dijelaskan para sufi. Bahkan bisa dikatakan bahwa hadis qudsi merupakan sumber inspirasi terbesar mereka setelah Al-Quran. Mereka kerap mendasarkan ajaran-ajaran utama mereka pada hadis qudsi. Atas jasa mereka, berbagai makna yang tak terkira dari sapaan Ilahi itu bisa kita nikmati.
Salah satu penjelasan alternative terhadap hadis qudsi yang jarang diungkap adalah penjelasan langsung (syarah) para perawinya. Di antara para perawi (ahli hadis) ada juga yang sekaligus ahli sufi, seperti Jalaluddin Al-Suyuthi, Zakaria Al-Anshari, Ibn Qayyim Al-Jauzi dan seterusnya. Bahkan, selain mendalam, penjelasan mereka memiliki dasar kekuatan yang jauh lebih tinggi: otoritas sanad (rangkaian perarwi hadis) yang sampai kepada nabi SAW.